Showing posts with label cara. Show all posts
Showing posts with label cara. Show all posts

Saturday, 9 March 2013

Menulis Itu Gampang!


Itu judul sebuah buku saku, yang kubeli entah berapa tahun lalu, saat berniat untuk serius menulis. Buku, yang bersama beberapa buku lain sejenis, sayangnya tidak sempat kubaca, hanya menjadi penunggu rak buku, terselip diantara Harry Potter danCoelho yang malah dibaca bolak balik, seperti kitab suci.
Jadi, niat menulisku, ya tetap hanya niat. Percikan ide hanya tercecer kesana kemari, di status facebook, di email-email panjang ke teman – teman terdekat, dan yang terbanyak, hanya bermain-main di dalam kepala, kemudian terlupa. Belakangan, beberapa teman sekampus satu persatu menerbitkan karya. Membaca mereka, aku jadi panas lagi, terlebih mereka-mereka ini memang ‘niat’ untuk manas-manasin temannya yang punya 1001 alasan untuk TIDAK menulis ini.
Nah, sebagai seorang pemula, ini trik ku dalam memaksa diri untuk menulis. Karena, walaupun aku percaya yang namanya writer’s block itu adalah mitos, tetap saja butuh usaha untuk membebaskan jiwa penulis yang terpenjara.
#1. Tulis tentang diri sendiri. Kisah kelahiran, kenakalan masa kecil, pacar pertama, daftarnya bisa panjang sekali. Karena diri sendiri, mau tidak mau, adalah topik yang paling kita kuasai. Jadi, sebagai pemula, ya aku menulis tentang diriku sendiri. Aku bahkan membuatnya dalam bentuk 25 hal acak tentang diriku (25 random things about me), ide yang kudapat dari postingan seorang kenalan di facebook.
#2. Curhatan teman. Mungkin karena sempat - meminjam istilah yang dipakai Deddy Corbuzer- , ‘berobat jalan’ ke fakultas Psikologi, atau memang sifat alamiku suka dicurhati, banyak teman memilih curhat alias konsultasi gratis, mulai dari masalah asmara, pekerjaan, sampai rumahtangga dan anak. Bertahun – tahun mendengar curahan hati orang lain, membuat banyak skenario di dalam kepala. Ini sumber yang kaya untuk ditulis. Tentu, sedapat mungkin diacak tokoh dan jalan cerita, agar tidak menimbulkan pelanggaran hak pribadi dan merusak kepercayaan yang sudah diberikan teman si pelaku curhat.
#3. Kenali kebiasaan buruk, siasati. Tentu yang kumaksud disini adalah kebiasaan buruk dalam menulis. Buatku, itu adalah sulitnya untuk fokus. Begitu di depan komputer, buka aplikasi word, segera saja aku disibukkan dengan pilihan-pilihan font yang bentuknya menggoda. Mencoba satu persatu, dan tiba-tiba saja, minat menulis raib. Atau, penggangggu lain: internet. Mulai dari facebook, tempatku bergaul, pinterest, tempatku menghayal, sampai ke situs-situs berita dan gosip selebriti, yang biasanya, jika tidak sedang berniat menulis, ya tidak menarik perhatianku. Trikku adalah, begtu berniat menulis, koneksi internet kuputuskan sementara. Jadi cukup hanya bermain di aplikasi word atau notepad.
#4. Manfaatin gadget. Jangan hanya terpaku pada komputer atau laptop. Tablet, smartphone, bahkan kertas post it bisa dimanfaatkan untuk mencatat ide yang tiba-tiba muncul. Buatku, yang paling sering kupakai adalah aplikasi notepad di Blackberry. Beberapa kali terjadi, , dari tulisan-tulisan sebaris yang diketik sambil lalu, setelah diolah di kemudian hari, jadi sebentuk karya berupa puisi.
#5. Catat Mimpi. Terus terang, setelah punya bayi, dan merasa tidak aman meletakkan notes, pensil atau bahkan handphone di bawah bantal, seperti kebiasaan di masa lajang, mencatat mimpi sudah sangat jarang kulakukan. Selain itu, setiap malam, seperti umumnya ibu yang punya bayi usia di bawah setahun, tidur tidak sempat bermimpi, sudah terbangun lagi. Tapi, seandainya memungkinkan, mimpi adalah sumber skenario yang luas juga, karena sifatnya yang tidak mengenal dimensi ruang dan waktu.
#6. Buka kamus. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku pecinta kamus. Mulai dari kamus standar bahasa Inggris versi Hasan- Sadily, kamus slang khas Australia, kamus Inggris versi Oxford, kamus Perancis yang setebal bantal, kamus Hindi. Satu yang sampai sekarang belum kesampaian kukoleksi, justru kamus besar bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta. Kadang, aku membaca satu kata, contohnya “blatant” yang artinya blak-blakan, tiba-tiba saja aku dapat ide untuk menulis tentang seorang gadis yang sedang patah hati, saat kisah cinta terlarangnya, kandas, dan curhat ke sahabatya yang bukannya menghibur malah membombardir dengan komentar-komentar pedas yang ‘blatant’ dan justru malah menyadarkan si gadis untuk menghapus airmatanya, dan merubah perspektif.
#7. Lirik Lagu. Bisa dibilang, lirik lagu adalah salah satu sumber khayalanku terbesar. Tentu saja llirik lagu yang maknanya masih samar-samar, bukan yang ceritanya terbaca jelas, seperti lagu Surti dan Tejo dari Jamrud Band. Contoh lagu kebangsaan dalam menghayal buatku adalah Just for you, dari Richard Cocciante. Selalu cerita yang berbeda, terbayang jika mendengar lagu tersebut. Selain itu, lagu bisa membawa ingatan melayang pada kenangan tertentu, yang dapat dijadikan ide cerita juga.
#8. Ganti – ganti bentuk tulisan. Jika pikiran mendadak buntu saat sedang mengerjakan satu proyek, cerita pendek misalnya, aku biasanya langsung mengganti bentuk. Apakah puisi, walaupun hanya draft, quotation, bahkan one liner. Kalau benar-benar buntu, kadang aku hanya menuliskan serangkaian kata acak, sekedar mengalihkan pikiran dari cerpen yang sedang dibuat. Hanya perlu diwaspadai adalah jangan sampai pada saat buntu, malah buka – buka internet. Buatku, #3 yang akan terjadi. Hilang fokus.
#9. Ciptain waktu khusus. Karena ada bayi dan tanpa asisten, maupun nanny, waktuku menulis adalah saat Xavier tidur. Semua kegiatan rumahtangga lain, dapat menunggu. Karena, memasak, mencuci piring, melipat cucian, semua bisa dilakukan sambil mengawasi bayi bermain. Tetapi, menulis, yang butuh konsentrasi penuh, tidak bisa. Jadi, sedapat mungkin, walaupun hanya maksimal satu jam sehari, aku usahakan mencuri waktu untuk menuangkan ide.
#10. Kompasiana. Walaupun sudah sering membaca tulisan-tulisan di Kompasiana beberapa tahun yang lalu, aku baru mulai bergabung kurang dari sebulan. Ceritanya, dulu aku terobsesi punya website pribadi, tempat menampung semua tulisanku. Tapi, setelah hampir 10 tahun mencoba, berganti - ganti website, mulai dari yang gratis, hingga yang tidak, tetap saja aku tak konsisten menulis. Berbagai alas an basi; bosan dengan tampilan website, lupa password, hingga jenuh karena tak ada pengunjung. Kuakui, melihat tulisanku dibaca, bahkan dikomentari oleh orang-orang yang tak kukenal, seperti bahan bakar yang menyalakan mesin ide di kepalaku. Tiba-tiba saja, segala macam hal tampak menarik untuk ditulis. Soal mutu tulisan, kupikir itu terkait erat dengan jam terbang dan kemauan belajar. Yang penting, menulis dulu, sambil belajar dari sesama penulis di Kompasiana.
Itu caraku membebaskan ‘narapidana pena’. Bagaimana caramu?
Waidhan, India. 080313

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/03/08/menulis-itu-gampang-541062.html

Saturday, 5 January 2013

Kebiasaan Beriktikad Baik



Dalam keseharian, kita selalu berhadapan dengan berbagai karakter dan sifat yang berbeda-beda dari setiap orang. Ada yang baik, ada yang mengesankan, ada yang sering berpura-pura, ada pula yang selalu meninggalkan citra positif. Semua itu muncul dari penilaian kita setelah berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga kita-dan juga orang lain-bisa saling menilai satu sama lain.

Karena itu, jika kita ingin dinilai baik, maka sudah sepantasnya pula bagi kita untuk selalu menunjukkan iktikad baik. Sebab, dengan memelihara iktikad baik dalam kehidupan keseharian: bertutur kata sopan, mengatakan hal-hal berdasarkan kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran, segera meminta maaf saat berbuat kesalahan, dan berbagai sikap positif lainnya, maka kita pun akan menuai kebaikan dari apa yang terpancar pada sikap keseharian.

Mari, selalu utamakan sikap dan sifat positif yang penuh kebaikan. Kita tanamkan agar diri selalu punya iktikad baik di setiap kesempatan. Dengan begitu, setiap waktu, setiap saat, bisa benar-benar kita isi dengan hal penuh manfaat yang membawa keberkahan. 


http://www.andriewongso.com/articles/details/5371/Kebiasaan-Beriktikad-Baik

Kebiasaan Berkompetisi



Sejak dilahirkan, kita sebenarnya sudah menjadi insan yang aktif berkompetisi, dalam berbagai bentuk dan kesempatan. Kita berkompetisi dengan kesibukan orangtua dengan mencoba menarik perhatiannya. Saat mulai sekolah kita berkompetisi dengan teman sekelas untuk menjadi yang terbaik. 

Saat remaja kita berkompetisi dengan teman untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Begitu menginjak masa masuk kerja, kita berkompetisi dengan ribuan bahkan jutaan pelamar kerja. Begitu pula yang menjadi pengusaha, tak pelak pasti harus berkompetisi dengan usaha sejenis lainnya.

Tentu, saat berkompetisi, kita selalu dihadapkan dengan tantangan dan ujian dari kompetitor. Kadang sulit, kadang susah, kadang menyakitkan. Namun sejatinya, justru di sanalah kita sedang digembleng untuk jadi pemenang sejati, yakni bukan menjadi sombong saat berhasil menang, tak menjadi rendah diri ketika mengalami kekalahan.
Biasakan diri kita terus berkompetisi untuk mengeluarkan potensi terbaik yang dimiliki. Jangan berkeluh kesah oleh sulitnya persaingan. Jangan  patah semangat hanya karena kekalahan. Jangan pula berkompetisi dengan cara yang kurang elegan dan tidak menjunjung tinggi etika persaingan.

Mari terus maju sebagai pejuang, untuk berkompetisi dan menjadi pemenang kehidupan!! Salam sukses, luar biasa!
http://www.andriewongso.com/articles/details/5716/Kebiasaan-Berkompetisi

Friday, 4 January 2013

Cara Tampil Percaya Diri Saat Gugup


Rasa gugup dan canggung umum terjadi dalam kehidupan seseorang. Ada kalanya seseorang gugup tapi ia tahu bisa mengatasinya asalkan tampil percaya diri, meski hanya berpura-pura. Ada baiknya percaya diri itu benar-benar dibangun agar bisa menang di segala situasi.

Percaya diri itu berasal dari masa kecil seseorang dan lingkungannya. Dan rasa percaya diri itu bisa berkembang seiring pertumbuhan.

Masing-masing dari kita memiliki sesuatu yang positif yang bisa berkontribusi. Percaya diri merupakan sesuatu yang selalu dibangun dengan menyadari diri sendiri.

Menerima kesalahan seseorang dan berusaha jujur untuk melakukan perubahan, Anda tidak perlu stres pada kesalahan-kesalahan Anda. Sangat penting untuk memahami diri sendiri, serta meletakkan kaki terbaik Anda ke depan.

Berikut cara mendekatkan diri dengan rasa percaya diri ketika sedang gugup seperti dikuti Magforwomen, Jumat (14/12/2012).

1.Lihatkan wajah yang percaya diri

Pada awalnya, ketika menghadapi orang membuat Anda merasa gugup, lihatlah mata orang itu dan menyapa dengan senyum.

2. Berjabat tangan dengan tegas

Jabat tangan yang lemah tidak berbicara dengan baik kepada seseorang.Jika Anda menghindari jabat tangan dengan sesorang yang tidak Anda inginkan, lakukanlah. Tapi, jika Anda berjabat tanga, harus dengan erat.

3. Naikkan dagu

Pertahankan kepala Anda dengan tinggi. Ini tidak berarti bahwa Anda mulai bertindak arogan, tapi itu menunjukkan realisasi nilai Anda sendiri.

4. Senyum ramah

Jangan menahan senyuman Anda. Sebuah senyuman yang menyenangkan akan menunjukkan kepada orang lain kalau Anda memiliki rasa percaya diri dan senyum selalu bisa membantu Anda mendapatkan teman.

5. Menerima dan membalikkan pujian

Ketika seseorang memuji Anda, jangan mencoba untuk menolaknya, terima pujian anggun itu dan kembalikan dengan perasaan.

6. Terlibat dalam percakapan

Cara yang baik untuk menyampaikan kepercayaan diri Anda adalah dengan mengajukan pertanyaan sederhana untuk melibatkan orang lain dalam percakapan. 

Tetap fokus pada aspek positif, dan percakapan rutin dapat mencerminkan rasa percaya diri Anda yang berurusan dengan situasi sekarang.

7. Coba untuk rileks

Ketika Anda menjadi bagian dalam kompetisi dan tekanan yang dihasilkan menyebabkan Anda stres, cobalah untuk rileks dan ingat kegugupan tidak akan memenangkan Anda.

8.Hubungkan dengan lelucon

Jika Anda tahu ada lelucon, hubungkanlah. Ini akan mencerminkan keyakinan batin Anda, kemampuan untuk bersantai dan membuat orang tertawa bersama Anda.

Cara Mengajarkan Kedewasan ke Anak-anak


Kedewasaan seseorang ditentukan dari pendidikan dan pengalamannya. Tak ada batasan usia agar seseorang menjadi dewasa. Anak-anak juga bisa diajarkan menjadi dewasa sejak dini.

Berikut beberapa cara untuk mengajarkan anak menjadi dewasa seperti dikutip Magforwomen, Jumat (4/1/2013):

1. Minta anak melakukan pekerjaan

Setelah memperhitungkan usianya, Anda bisa meminta anak untuk melakukan pekerjaan dan dibayar. Anda bisa mempekerjakan dan membayar anak Anda untuk tugas rumah. Anak-anak cenderung menyadari nilai uang dan bekerja keras hanya ketika merasakannya langsung.

Pemahaman uang secara langsung terkait dengan tingkat kematangan. Jadi, membiarkan anak Anda bekerja bisa menjadi langkah pertama dalam mengajarkan kedewasan ke anak.

2. Menjaga hubungan keluarga

Anak-anak mencapai kedewasaan sosial ketika melihat orangtuanya mempertahankan kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya. Mengajarkan anak bagaimana berhubungan sosial dan memahami nilai keluarga dalam kehidupan bisa menjadi cara pertama mendekatkan hubungan tersebut.

Jika Anda terus menerus berdebat dan bertengkar dengan teman dan keluarga, Anda tak bisa mengharapkan anak Anda menjadi dewasa untuk masalah itu.

3. Mengajarkan anak dari pengalaman orang lain

Mungkin sangat sulit mengajar anak semua hal yang benar dan salah dalam kehidupan seperti buku yang ada di buku pelajaran. 

Yang terbaik adalah untuk mengajarkan anak Anda untuk menjadi dewasa dengan melihat pengalaman orang lain. Hal ini bisa berkisar dari dampak kecanduan dan gagal di sekolah.

4. Biarkan anak Anda gagal

Tak ada guru yang lebih baik daripada kegagalan. Biarkan anak Anda mendapat pelajaran dan pengalaman dari kegagalan.Ketika Anda melihat anak Anda di ambang kegagalan, Anda mungkin ingin ikut campur. Tahan diri Anda untuk melakukannya jika itu tidak terlalu serius dan biarkan anak gagal dan bangkit lagi.

5. Perlakukan anak seperti orang dewasa

Jika Anda ingin mengajarkan anak Anda menjadi dewasa, hal pertama yang Anda mungkin harus lakukan adalah memperlakukan anak seperti orang dewasa. 

Anda tidak bisa mengharapkan anak untuk berpikir dan berfungsi seperti orang dewasa jika Anda terus menatap dan memperlakukan seperti anak-anak. 

Menghormati apa yang anak-anak katakan, mendengarkan dan menanggapi seperti Anda lakukan dengan orang dewasa lain, tidak peduli seberapa dewasa anak-anak terdengar.

6. Biarkan anak membuat keputusan sendiri

Salah satu cara yang paling penting mengajarkan kedewasaan adalah membiarkan anak mengambil keputusan sendiri.

Membuat keputusan adalah cara membangun karakter berkualitas dan anak-anak harus diperbolehkan membuat keputusan sendiri dan menanggung akibatnya. Anak Anda bisa merasakan kedewasaan jika memberikan kebebasan membuat keputusan.

7. Cobalah memberikan contoh ideal

Anak-anak cenderung belajar diam-diam dengan mengamati apa yang dilakukan dan dikatakan orangtuanya. Suka atau tidak, Anda akan berhasil mengajarkan anak tentang kedewasaan hanya jika Anda menunjukkan kedewasaan.

Tampilkan perilaku tak dewasa di depan anak-anak seperti mabuk, berkelahi, atau menghabiskan uang menjadi dampak negatif untuk anak-anak.

Tuesday, 1 January 2013

Cara Berkemas Efisien


Perhatikan posisi barang saat memasukannya dalam koper.
Setiap kali melakukan perjalanan untuk liburan - apalagi untuk jangka waktu yang lama - tentunya banyak barang yang akan dibawa.

Terkadang koper atau tas Anda terlihat lebih besar dan membengkak, padahal barang bawaan sudah diminimalkan.

Supaya cara berkemas tidak terlalu ribet, ada beberapa cara berkemas yang efisien seperti dikutip dari laman smarttravel.

- Sebaiknya, pisahkan barang yang selalu dibutuhkan semisal dompet atau paspor dalam tas kecil. Hal ini akan memudahkan saat semua perlengkapan tersebut diperlukan.

- Pakaian yang dibawa sebaiknya dikemas dalam gulungan agar dapat menghemat tempat dan mengurangi kusut pada pakaian.

- Letakan barang paling berat di bagian paling bawah koper atau tas bawaan.

- Untuk perlengkapan pribadi (sampo, sabun, handuk, pasta gigi dan lainnya) sebaiknya dimasukan kedalam tas terpisah.

- Sediakan plastik untuk menyimpan pakaian kotor agar terpisah dari pakaian bersih.

- Kalau membawa sepatu, ganti kotaknya dengan plastik pembungkus agar menghemat tempat.

- Pastikan pula pada saat pergi dan pulang, gunakan pakaian berbahan berat, seperti jaket dan celana jeans. Hal ini membantu meringankan beban barang bawaan.