Wednesday, 9 January 2013

Pentingnya Menghargai Sebuah Proses


Barusan saya melihat sepenggal potongan acara Masterchef Indonesia di situs You Tube. Dalam hati saya berkata, “Wah sepertinya menarik nih!” Terbayang dalam pikiran saya tentang masakan Indonesia yang sudah terkenal akan kelezatannya dan juga kaya akan bumbu-bumbu. “Hmmm yummm…” Tetapi tiba-tiba saya mendadak menjadi hilang simpati dan geram ketika pada saat salah satu dari anggota juri mengatakan “Saya sangat suka sekali dengan kuenya. Sensasional. Tapi, BUANG SAUSNYA.” Kemudian dilanjutkan dengan adegan sendok dibanting ke dalam mangkuk/wadah saus tersebut. Kemudian di episode lainnya saya menyaksikan salah seorang anggota dewan juri mengatakan “Masakan kamu itu sampah!“, sambil menyingkirkan hidangan dengan tidak hormat, ketika menilai hasil masakan dari salah seorang peserta. Dalam hati saya langsung berkata “what the f*ck!?” Sombong sekali orang itu?

Saya kemudian membandingkan acara Masterchef Indonesia dengan Masterchef Australia. Selama saya menonton acara Masterchef Australia, tidak pernah sekalipun saya melihat kesombongan anggota dewan jurinya dalam menilai masakan dari para peserta. Mereka terus-menerus memberikan apresiasi dan dorongan terhadap masakan yang disajikan oleh peserta lomba. Sampai-sampai saya yang hanya menonton bingung, tidak dapat menebak siapa yang sesungguhnya akan menang. Semua peserta yang ikut pun juga tampak tegang dan optimis bahwa dirinya lah yang memiliki masakan terbaik.

Melihat dari perbandingan kedua acara yang konsepnya diadopsi dari acara “MasterChef” yang berasal dari Inggris tersebut, saya menyimpulkan bahwa penghargaan terhadap suatu HASIL KERJA KERAS seseorang belum begitu dihargai di Indonesia dan juga sebagian besar orang di Indonesia sangat suka sekali mempermalukan dan mengolok-olok orang lain di depan umum.

Saya jadi teringat semasa SD/SMP/SMA dulu. Guru-guru dan orang tua saya hanya melihat hasil sekolah saya dari angka-angka yang tertera di dalam suatu buku yang bernama RAPOR. Jika ada angka yang kurang memuaskan, mereka biasanya menilai kalau saya ini malas, kurang berusaha, tidak maksimal dalam belajar. Sebagai seorang murid dan juga seorang anak, saya hanya bisa pasrah dan diam saja menerima “ceramah” dari mereka. Meskipun hati ini menolak. Apakah mereka tidak sadar berapa mata pelajaran dalam 1 caturwulan (cawu) yang harus dipelajari? Apakah mereka lupa kalau kami-kami ini (murid) berada di sekolah dari pagi sampai lewat waktu Dzuhur (7.00 AM - 1.00 PM). Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan extrakurikuler lainnya seperti les ini, kursus itu lah. Belum lagi bimbingan belajar yang harus diikuti di sore harinya (3.00 PM - 5.00 PM). Ditambah lagi pada malam harinya harus mengerjakan PR dan menyiapkan buku-buku pelajaran buat esok harinya.

Budaya seperti ini sepertinya bukan saja merambah di dunia pendidikan saja, tetapi juga hampir di semua sektor. Di kantor misalnya, kita sering kali lupa bahwa karena jasa para “Office Boy” dan “Cleaning Service” lah lantai kantor kita menjadi bersih dan wangi. Meja-meja kita menjadi bebas debu. Segelas kopi maupun teh manis sudah terhidang di meja kita sebelum kita datang. Kemudian lagi di lingkungan masyarakat, kita seolah lupa terhadap jasa para tukang sampah yang mengangkut sampah rumah kita setiap hari, jasa pembantu kita yang mengerjakan hal-hal rumah tangga dari menyapu, menyetrika, mencuci, memasak, dan menyiapkan sarapan untuk kita di pagi hari.

Tetapi kita jarang memberikan apresiasi kepada mereka. Keberadaan mereka seolah tidak begitu penting dalam keseharian kita. Kemudian pula mengenai budaya mempermalukan orang di depan umum (atau dikenal dengan istilah “bullying“) begitu kental hampir di semua instansi di Indonesia. Pengalaman saya sewaktu SMA dulu ketika memberikan suatu presentasi di depan kelas, jika saya melakukan suatu hal konyol atau kesalahan kecil langsung seisi kelas mentertawakan saya. Guru pun juga demikian, malahan ada seorang guru yang senang sekali memperlihatkan kebodohan muridnya di depan kelas dengan memberikan soal-soal yang sulit untuk dijawab kepada murid yang lemah terhadap pelajaran tersebut.

Berbeda sekali dengan pengalaman saya ketika kuliah di salah satu politeknik di negeri kanguru ini. Pada saat itu adalah hari untuk pertama kalinya saya presentasi di depan kelas. Perasaan gugup, canggung, dan juga keringat dingin menyergap diri saya. Ditambah lagi presentasi harus dilakukan dengan bahasa Inggris yang bukan merupakan bahasa Ibu saya. Saya pasrah saja jika ditertawakan oleh  teman-teman dari negara lain (mungkin juga oleh gurunya yang bule asli Australia). Tetapi ketika presentasi mulai berjalan beberapa saat, saya menyadari bahwa mereka betul-betu 100% menyimak apa yang saya paparkan. Meskipun dengan bahasa Inggris yang masih terbata-bata dan banyak grammar yang salah mereka tidak mentertawakannya. Sadar dengan keadaan demikian, lantas membuat saya menjadi percaya diri karena saya merasa sangat dihargai oleh mereka. Sampai akhirnya presentasi selesai, mereka memberikan applause kepada saya. Betul-betul hal yang sangat langka dan tidak pernah saya jumpai semasa bersekolah di Indonesia.

Hal inilah yang saya kira membuat Indonesia tidak maju-maju. Bagaimana mau maju jika belum memulai saja sudah takut ditertawakan atau dipermalukan di depan banyak orang? Bagaimana mau maju jika suatu proses kerja keras seseorang saja tidak dinilai tetapi yang menentukan semuanya adalah hasil dari kerja keras tersebut? Tidakkah mereka sadar bahwa sebelum menemukan bola lampu, Thomas Alva Edison pernah gagal? sebelum menciptakan mesin kendaraan bermotor yang canggih, Soichiro Honda juga pernah mengalami kegagalan? Bagi kebanyakan orang di Indonesia, proses itu tidaklah penting yang terpenting adalah hasilnya (output). Maka tidaklah heran banyak bertebaran jalan pintas di mana-mana. Nggak peduli itu halal atau haram yang penting berhasil dan tidak gagal. Urusan hukum atau akhirat itu nanti.

Bullying dan kurangnya penghargaan terhadap suatu proses kerja keras seseorang menyebabkan banyak orang-orang di Indonesia menjadi minder dan tidak percaya diri. Inilah penyebab utama yang mematikan kreativitas seseorang. Sudah saatnya kita tidak lagi melihat suatu HASIL AKHIR tetapi lihat juga bagaimana PROSESNYA, karena di dalam suatu PROSES terkandung pembelajaran terhadap suatu hal yang jika terus-menerus disempurnakan maka terciptalah suatu KEBERHASILAN. Jika hal tersebut dilakukan, maka orang akan merasa dihargai. Jika orang telah merasa dihargai maka mereka dapat berkreasi dan menjadi kreatif. Jika Indonesia menjadi kreatif, maka in sya’Allah kita akan menjadi seperti Jepang atau mungkin lebih dari itu. Wallahualam.

http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/18/jangan-lihat-hasil-akhirnya-tetapi-lihat-juga-prosesnya-kritik-untuk-indonesia-364897.html

No comments: