Barusan saya melihat sepenggal
potongan acara Masterchef Indonesia di situs You Tube. Dalam hati saya berkata,
“Wah sepertinya menarik nih!” Terbayang dalam pikiran saya tentang masakan
Indonesia yang sudah terkenal akan kelezatannya dan juga kaya akan bumbu-bumbu.
“Hmmm yummm…” Tetapi tiba-tiba saya mendadak menjadi hilang simpati dan geram
ketika pada saat salah satu dari anggota juri mengatakan “Saya sangat suka
sekali dengan kuenya. Sensasional. Tapi, BUANG SAUSNYA.” Kemudian dilanjutkan
dengan adegan sendok dibanting ke dalam mangkuk/wadah saus tersebut. Kemudian
di episode lainnya saya menyaksikan salah seorang anggota dewan juri mengatakan
“Masakan kamu itu sampah!“, sambil menyingkirkan hidangan dengan tidak hormat,
ketika menilai hasil masakan dari salah seorang peserta. Dalam hati saya
langsung berkata “what the f*ck!?” Sombong sekali orang itu?
Saya kemudian membandingkan acara
Masterchef Indonesia dengan Masterchef Australia. Selama saya menonton acara
Masterchef Australia, tidak pernah sekalipun saya melihat kesombongan anggota
dewan jurinya dalam menilai masakan dari para peserta. Mereka terus-menerus
memberikan apresiasi dan dorongan terhadap masakan yang disajikan oleh peserta
lomba. Sampai-sampai saya yang hanya menonton bingung, tidak dapat menebak
siapa yang sesungguhnya akan menang. Semua peserta yang ikut pun juga tampak
tegang dan optimis bahwa dirinya lah yang memiliki masakan terbaik.
Melihat dari perbandingan kedua
acara yang konsepnya diadopsi dari acara “MasterChef” yang berasal dari Inggris
tersebut, saya menyimpulkan bahwa penghargaan terhadap suatu HASIL KERJA KERAS
seseorang belum begitu dihargai di Indonesia dan juga sebagian besar orang di
Indonesia sangat suka sekali mempermalukan dan mengolok-olok orang lain di depan
umum.
Saya jadi teringat semasa
SD/SMP/SMA dulu. Guru-guru dan orang tua saya hanya melihat hasil sekolah saya
dari angka-angka yang tertera di dalam suatu buku yang bernama RAPOR. Jika ada
angka yang kurang memuaskan, mereka biasanya menilai kalau saya ini malas,
kurang berusaha, tidak maksimal dalam belajar. Sebagai seorang murid dan juga
seorang anak, saya hanya bisa pasrah dan diam saja menerima “ceramah” dari
mereka. Meskipun hati ini menolak. Apakah mereka tidak sadar berapa mata
pelajaran dalam 1 caturwulan (cawu) yang harus dipelajari? Apakah mereka lupa
kalau kami-kami ini (murid) berada di sekolah dari pagi sampai lewat waktu
Dzuhur (7.00 AM - 1.00 PM). Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan extrakurikuler
lainnya seperti les ini, kursus itu lah. Belum lagi bimbingan belajar yang
harus diikuti di sore harinya (3.00 PM - 5.00 PM). Ditambah lagi pada malam
harinya harus mengerjakan PR dan menyiapkan buku-buku pelajaran buat esok
harinya.
Budaya seperti ini sepertinya
bukan saja merambah di dunia pendidikan saja, tetapi juga hampir di semua
sektor. Di kantor misalnya, kita sering kali lupa bahwa karena jasa para
“Office Boy” dan “Cleaning Service” lah lantai kantor kita menjadi bersih dan
wangi. Meja-meja kita menjadi bebas debu. Segelas kopi maupun teh manis sudah
terhidang di meja kita sebelum kita datang. Kemudian lagi di lingkungan
masyarakat, kita seolah lupa terhadap jasa para tukang sampah yang mengangkut
sampah rumah kita setiap hari, jasa pembantu kita yang mengerjakan hal-hal
rumah tangga dari menyapu, menyetrika, mencuci, memasak, dan menyiapkan sarapan
untuk kita di pagi hari.
Tetapi kita jarang memberikan
apresiasi kepada mereka. Keberadaan mereka seolah tidak begitu penting dalam
keseharian kita. Kemudian pula mengenai budaya mempermalukan orang di depan
umum (atau dikenal dengan istilah “bullying“) begitu kental hampir di semua
instansi di Indonesia. Pengalaman saya sewaktu SMA dulu ketika memberikan suatu
presentasi di depan kelas, jika saya melakukan suatu hal konyol atau kesalahan
kecil langsung seisi kelas mentertawakan saya. Guru pun juga demikian, malahan
ada seorang guru yang senang sekali memperlihatkan kebodohan muridnya di depan
kelas dengan memberikan soal-soal yang sulit untuk dijawab kepada murid yang
lemah terhadap pelajaran tersebut.
Berbeda sekali dengan pengalaman
saya ketika kuliah di salah satu politeknik di negeri kanguru ini. Pada saat
itu adalah hari untuk pertama kalinya saya presentasi di depan kelas. Perasaan
gugup, canggung, dan juga keringat dingin menyergap diri saya. Ditambah lagi
presentasi harus dilakukan dengan bahasa Inggris yang bukan merupakan bahasa
Ibu saya. Saya pasrah saja jika ditertawakan oleh teman-teman dari negara lain (mungkin juga
oleh gurunya yang bule asli Australia). Tetapi ketika presentasi mulai berjalan
beberapa saat, saya menyadari bahwa mereka betul-betu 100% menyimak apa yang
saya paparkan. Meskipun dengan bahasa Inggris yang masih terbata-bata dan
banyak grammar yang salah mereka tidak mentertawakannya. Sadar dengan keadaan
demikian, lantas membuat saya menjadi percaya diri karena saya merasa sangat
dihargai oleh mereka. Sampai akhirnya presentasi selesai, mereka memberikan
applause kepada saya. Betul-betul hal yang sangat langka dan tidak pernah saya
jumpai semasa bersekolah di Indonesia.
Hal inilah yang saya kira membuat
Indonesia tidak maju-maju. Bagaimana mau maju jika belum memulai saja sudah
takut ditertawakan atau dipermalukan di depan banyak orang? Bagaimana mau maju
jika suatu proses kerja keras seseorang saja tidak dinilai tetapi yang
menentukan semuanya adalah hasil dari kerja keras tersebut? Tidakkah mereka
sadar bahwa sebelum menemukan bola lampu, Thomas Alva Edison pernah gagal?
sebelum menciptakan mesin kendaraan bermotor yang canggih, Soichiro Honda juga
pernah mengalami kegagalan? Bagi kebanyakan orang di Indonesia, proses itu
tidaklah penting yang terpenting adalah hasilnya (output). Maka tidaklah heran
banyak bertebaran jalan pintas di mana-mana. Nggak peduli itu halal atau haram
yang penting berhasil dan tidak gagal. Urusan hukum atau akhirat itu nanti.
Bullying dan kurangnya
penghargaan terhadap suatu proses kerja keras seseorang menyebabkan banyak
orang-orang di Indonesia menjadi minder dan tidak percaya diri. Inilah penyebab
utama yang mematikan kreativitas seseorang. Sudah saatnya kita tidak lagi
melihat suatu HASIL AKHIR tetapi lihat juga bagaimana PROSESNYA, karena di
dalam suatu PROSES terkandung pembelajaran terhadap suatu hal yang jika
terus-menerus disempurnakan maka terciptalah suatu KEBERHASILAN. Jika hal tersebut
dilakukan, maka orang akan merasa dihargai. Jika orang telah merasa dihargai
maka mereka dapat berkreasi dan menjadi kreatif. Jika Indonesia menjadi
kreatif, maka in sya’Allah kita akan menjadi seperti Jepang atau mungkin lebih
dari itu. Wallahualam.
http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/18/jangan-lihat-hasil-akhirnya-tetapi-lihat-juga-prosesnya-kritik-untuk-indonesia-364897.html
No comments:
Post a Comment